SEJARAH BAMBANG SADANA - DEWI SRI
Arca perunggu perwujudan Dewi Sri
dalam gaya Jawa Tengahan
Dewi Sri atau Dewi Shri (Bahasa Jawa), Nyai Pohaci Sanghyang
Asri (Bahasa Sunda), adalah dewi pertanian, dewi padi dan sawah, serta dewi
kesuburan di pulau Jawa dan Bali. Pemuliaan dan pemujaan terhadapnya
berlangsung sejak masa pra-Hindu dan pra-Islam di pulau Jawa.
Atribut dan legenda
Ia dipercaya sebagai dewi yang menguasai ranah dunia bawah tanah
juga bulan. Perannya mencakup segala aspek Dewi Ibu, yakni sebagai pelindung
kelahiran dan kehidupan. Ia juga dapat mengendalikan bahan makanan di bumi
terutama padi: bahan makanan pokok masyarakat Indonesia; maka ia mengatur
kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran. Berkahnya terutama panen padi yang
berlimpah dan dimuliakan sejak masa kerajaan kuna di pulau Jawa seperti
Majapahit dan Pajajaran. Dewi Sri juga mengendalikan segala kebalikannya; yaitu
kemiskinan, bencana kelaparan, hama penyakit, dan hingga batas tertentu,
mempengaruhi kematian. Karena ia merupakan simbol bagi padi, ia juga dipandang
sebagai ibu kehidupan. Seringkali ia dihubungkan dengan tanaman padi dan ular
sawah.
Mitos dewi padi
Kebanyakan kisah mengenai Dewi Sri terkait dengan mitos asal
mula terciptanya tanaman padi, bahan pangan utama di kawasan ini. Berikut ini
adalah salah satu kisah mengenai Dewi Sri sebagai dewi padi berdasarkan
“Wawacan Sulanjana”:[1] [2]
Dahulu kala di Kahyangan, Batara Guru yang menjadi penguasa
tertinggi kerajaan langit, memerintahkan segenap dewa dan dewi untuk
bergotong-royong, menyumbangkan tenaga untuk membangun istana baru di
kahyangan. Siapapun yang tak menaati perintah ini akan dipotong tangan dan
kakinya. Mendengar titah Batara Guru, Antaboga (Anta) sang dewa ular sangat
cemas. Betapa tidak, ia samasekali tidak memiliki tangan dan kaki untuk
bekerja. Jika harus dihukum pun, tinggal lehernyalah yang dapat dipotong, dan
itu berarti kematian. Anta sangat ketakutan, kemudian ia meminta nasehat Batara
Narada, saudara Batara Guru, mengenai masalah yang dihadapinya. Tetapi sayang
sekali, Batara Narada pun bingung dan tak dapat menemukan cara untuk membantu
sang dewa ular. Putus asa, Dewa Anta pun menangis terdesu-sedu meratapi betapa
buruk nasibnya.
Akan tetapi ketika tetes air mata Anta jatuh ke tanah, dengan
ajaib tiga tetes air mata berubah menjadi mustika yang berkilau-kilau bagai
permata. Butiran itu sesungguhnya adalah telur yang memiliki cangkang yang
indah. Barata Narada menyarankan agar butiran mustika itu dipersembahkan kepada
Batara Guru sebagai bentuk permohonan agar beliau memahami dan mengampuni
kekurangan Anta yang tidak dapat ikut bekerja membangun istana.
Dengan mengulum tiga butir telur mustika dalam mulutnya, Anta
pun berangkat menuju istana Batara Guru. Di tengah perjalanan Anta bertemu
dengan seekor burung gagak yang kemudian menyapa Anta dan menanyakan kemana ia
hendak pergi. Karena mulutnya penuh berisi telur Anta hanya diam tak dapat
menjawab pertanyaan si burung gagak. Sang gagak mengira Anta sombong sehingga
ia amat tersinggung dan marah. Burung hitam itu pun menyerang Anta yang panik,
ketakutan, dan kebingungan. Akibatnya sebutir telur mustika itu pecah. Anta
segera bersembunyi di balik semak-semak menunggu gagak pergi. Tetapi sang gagak
tetap menunggu hingga Anta keluar dari rerumputan dan kembali mencakar Anta. Telur
kedua pun pecah, Anta segera melata beringsut lari ketakutan menyelamatkan
diri, kini hanya tersisa sebutir telur mustika yang selamat, utuh dan tidak
pecah.
Arca kuno Dewi Sri
terbuat dari perunggu
Akhirnya Anta tiba di istana Batara Guru dan segera
mempersembahkan telur mustika itu kepada sang penguasa kahyangan. Batara Guru
dengan senang hati menerima persembahan mustika itu. Akan tetapi setelah
mengetahui mustika itu adalah telur ajaib, Batara Guru memerintahkan Anta untuk
mengerami telur itu hingga menetas. Setelah sekian lama Anta mengerami telur
itu, maka telur itu pun menetas. Akan tetapi secara ajaib yang keluar dari
telur itu adalah seorang bayi perempuan yang sangat cantik, lucu, dan
menggemaskan. Bayi perempuan itu segera diangkat anak oleh Batara Guru dan
permaisurinya.
Nyi Pohaci Sanghyang Sri adalah nama yang diberikan kepada putri
itu. Seiring waktu berlalu, Nyi Pohaci tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik
luar biasa. Seorang putri yang baik hati, lemah lembut, halus tutur kata, luhur
budi bahasa, memikat semua insan. Setiap mata yang memandangnya, dewa maupun
manusia, segera jatuh hati pada sang dewi. Akibat kecantikan yang mengalahkan
semua bidadari dan para dewi khayangan, Batara Guru sendiri pun terpikat kepada
anak angkatnya itu. Diam-diam Batara guru menyimpan hasrat untuk mempersunting
Nyi Pohaci. Melihat gelagat Batara Guru itu, para dewa menjadi khawatir jika
dibiarkan maka skandal ini akan merusak keselarasan di kahyangan. Maka para
dewa pun berunding mengatur siasat untuk memisahkan Batara Guru dan Nyi Pohaci
Sanghyang Sri.
Untuk melindungi kesucian Nyi Pohaci, sekaligus menjaga
keselarasan rumah tangga sang penguasa kahyangan, para dewata sepakat bahwa tak
ada jalan lain selain harus membunuh Nyi Pohaci. Para dewa mengumpulkan segala
macam racun berbisa paling mematikan dan segera membubuhkannya pada minuman
sang putri. Nyi Pohaci segera mati keracunan, para dewa pun panik dan ketakutan
karena telah melakukan dosa besar membunuh gadis suci tak berdosa. Segera jenazah
sang dewi dibawa turun ke bumi dan dikuburkan ditempat yang jauh dan
tersembunyi.
Lenyapnya Dewi Sri dari kahyangan membuat Batara Guru, Anta, dan
segenap dewata pun berduka. Akan tetapi sesuatu yang ajaib terjadi, karena
kesucian dan kebaikan budi sang dewi, maka dari dalam kuburannya muncul
beraneka tumbuhan yang sangat berguna bagi umat manusia. Dari kepalanya muncul
pohon kelapa; dari hidung, bibir, dan telinganya muncul berbagai tanaman
rempah-rempah wangi dan sayur-mayur; dari rambutnya tumbuh rerumputan dan
berbagai bunga yang cantik dan harum; dari payudaranya tumbuh buah buahan yang
ranum dan manis; dari lengan dan tangannya tumbuh pohon jati, cendana, dan
berbagai pohon kayu yang bermanfaat; dari alat kelaminnya muncul pohon aren
atau enau bersadap nira manis; dari pahanya tumbuh berbagai jenis tanaman
bambu, dan dari kakinya mucul berbagai tanaman umbi-umbian dan ketela; akhirnya
dari pusaranya muncullah tanaman padi, bahan pangan yang paling berguna bagi
manusia. Versi lain menyebutkan padi berberas putih muncul dari mata kanannya,
sedangkan padi berberas merah dari mata kirinya. Singkatnya, semua tanaman
berguna bagi manusia berasal dari tubuh Dewi Sri Pohaci. Sejak saat itu umat
manusia di pulau Jawa memuja, memuliakan, dan mencintai sang dewi baik hati,
yang dengan pengorbanannya yang luhur telah memberikan berkah kebaikan alam,
kesuburan, dan ketersediaan pangan bagi manusia. Pada sistem kepercayaan
Kerajaan Sunda kuna, Nyi Pohaci Sanghyang Sri dianggap sebagai dewi tertinggi
dan terpenting bagi masyarakat agraris.
Sebagai tokoh agung yang sangat dimuliakan, ia memiliki berbagai
versi cerita, kebanyakan melibatkan Dewi Sri (Dewi Asri, Nyi Pohaci) dan
saudara laki-lakinya Sedana (Sadhana atau Sadono), dengan latar belakang
Kerajaan Medang Kamulan, atau kahyangan (dengan keterlibatan dewa-dewa seperti
Batara Guru), atau kedua-duanya. Di beberapa versi, Dewi Sri dihubungkan dengan
ular sawah sedangkan Sadhana dengan burung sriti (walet). Ular sawah dikaitkan
dengan sang dewi dan cenderung dihormati, mungkin karena kearifan lokal dan
kesadaran ekologi purba yang memahami bahwa ular sawah memakan tikus yang
menjadi hama tanaman padi. Di banyak negara Asia lain seperti di India dan
Thailand, berbagai jenis ular terutama ular sedok pun dihubungkan dengan mitos
kesuburan sebagai pelindung sawah.
Penggambaran
Arca Dewi Sri Bali
Dewi Sri selalu digambarkan sebagai gadis muda yang cantik,
ramping tapi bertubuh sintal dan berisi, dengan wajah khas kecantikan alami
gadis asli Nusantara. Mewujudkan perempuan di usia puncak kecantikan,
kewanitaan, dan kesuburannya. Kebudayaan adiluhung Jawa dengan selera estetis
tinggi menggambarkan Dewi Sri seperti penggambaran dewi dan putri ningrat dalam
pewayangan. Wajah putih dengan mata tipis menatap ke bawah dengan raut wajah
yang anggun dan tenang. Serupa dengan penggambaran kecantikan dewi Sinta dari
kisah Ramayana. Pasangannya, Sedhana juga digambarkan dengan rupa bagus seperti
Rama. Patung loro blonyo (berarti: “dua lapik atau dasar”) yang menggambarkan
sepasang lelaki dan perempuan, juga diibaratkan sebagai pasangan Dewi Sri dan
Sedhana.
Ritual dan adat
Dewi Sri tetap dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat Jawa,
Sunda, dan Bali . Meskipun demikian banyak versi mitos serupa mengenai dewi
kesuburan juga dikenal oleh suku bangsa lainnya di Indonesia. Meskipun kini
orang Indonesia kebanyakan adalah muslim atau beragama hindu, sifat dasarnya
tetap bernuansa animisme dan dinamisme. Kepercayaan lokal seperti Kejawen dan
Sunda Wiwitan tetap berakar kuat dan pemuliaan terhadap Dewi Sri terus
berlangsung bersamaan dengan pengaruh Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen.
Beberapa kraton di Indonesia, seperti kraton di Cirebon, Ubud, Surakarta, dan
Yogyakarta tetap membudayakan tradisi ini. Sebagai contoh upacara slametan atau
syukuran panen di Jawa disebut Sekaten atau Grebeg Mulud yang juga berbarengan
dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad.
Sebuah kuil kecil persembahan untuk Dewi Sri dibangun di tengah
sawah, Karangtengah, Jawa Tengah.
Masyarakat tradisional Jawa, terutama pengamal ajaran Kejawen,
memiliki tempat khusus di tengah rumah mereka untuk Dewi Sri yang disebut
Pasrean (tempat Dewi Sri) agar mendapatkan kemakmuran. Tempat khusus ini
dihiasi dengan ukiran ular dan patung loro blonyo, terkadang lengkap dengan
peralatan pertanian seperti ani-ani atau arit kecil dan sejumput padi. Sering
pula diberi sesajen kecil untuk persembahan bagi Dewi Sri. Patung loro blonyo
dianggap sebagai perwujudan Sri dan Sedhana, atau Kamaratih dan Kamajaya,
semuanya merupakan lambang kemakmuran dan kebahagiaan rumah tangga, serta
kerukunan hubungan suami-istri.
Pada masyarakat petani di pedesaan Jawa, ada tradisi yang
melarang mengganggu dan mengusir ular yang masuk ke dalam rumah. Malah ular itu
diberikan persembahan dan dihormati hingga ular itu pergi dengan sendirinya,
tradisi ini menganggap ular adalah pertanda baik bahwa panen mendatang akan
berhasil melimpah. Pada upacara slametan menanam padi juga melibatkan dukun
yang mengelilingi desa dengan keris berkekuatan gaib untuk memberkati bibit
padi yang akan ditanam.
Masyarakat Sunda memiliki rangkaian perayaan dan upacara khusus
yang dipersembahkan untuk Dewi Sri. Misalnya upacara Seren Taun yang digelar
tiap tahun oleh masyarakat Baduy, Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Kampung
Naga, Cigugur, Kuningan, dan berbagai komunitas tradisional Sunda lainnya.
Tradisi ini ditelusuri sudah dilakukan sejak zaman Kerajaan Sunda purba.
Upacara digelar untuk memberkati bibit padi yang akan ditanam serta padi yang
akan dipanen. Pada perayaan ini masyarakat Sunda menyanyikan beberapa pantun
atau kidung seperti Pangemat dan Angin-angin. Kidung nyanyian ini dimaksudkan
untuk mengundang Dewi Sri agar sudi turun ke bumi dan memberkati bibit padi,
supaya pada para petani sehat, dan sebagai upacara ngaruwat atau tolak bala;
untuk menangkal kesialan atau nasib buruk yang mungkin dapat menimpa para
petani.[3] Pada saat memanen padi pun masyarakat tradisional Sunda tidak boleh
menggunakan arit atau golok untuk memanen padi, mereka harus menggunakan
ani-ani atau ketam, pisau kecil yang dapat disembunyikan di telapak tangan.
Masyarakat Sunda percaya bahwa Dewi Sri Pohaci yang berjiwa halus dan lemah
lembut akan ketakutan melihat senjata tajam besar seperti arit atau golok.
Selain itu ada kepercayaan bahwa padi yang akan dipanen, yang juga perwujudan
sang dewi, harus diperlakukan dengan hormat dan lembut satu persatu, tidak
boleh dibabat secara kasar begitu saja.
Masyarakat petani di Bali biasanya menyediakan kuil kecil di
sawah untuk memuliakan Dewi Sri. Kuil kecil ini sering kali diberi sesajen
sebagai persembahan agar Dewi Sri sudi melindungi sawah mereka dan mengkaruniai
kemakmuran dan panen yang berlimpah. Pada sistem kepercayaan Hindu Dharma, Dewi
Sri dianggap sebagai perwujudan atau perpaduan beberapa dewi-dewi Hindu seperti
dewi Lakshmi, Dewi, dan Shri (gabungan sifat sakti dewi Hindu). Di Bali Dewi
ini dianggap sebagai dewi padi, kesuburan, penjamin keberhasilan panen, serta
kemakmuran dan pelindung keluarga.
Bahasa
Dalam bahasa Indonesia istilah Sri juga digunakan sebagai kata
sandang untuk menyebut orang yang dihormati, misalnya: Sri Paduka Raja, Sri
Ratu, Sri Paus, Sri Krishna, Sri Rama dan lain sebagainya
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar